Sory baru bisa memposting tulisan gw sekarang. Padahal catatanku sudah gak muat lagi ditulis di kertas.
Namun gpp. gw kembali ngenajutin catatan yang terputus itu dari catatan lembar pertama.
Pukul 14.00 wib. gw sudah sekasai mandi. setelah masuk kamar gw ngeliat ada seorang gadis seuisiaku sudah ada di dalam. tebakakku benar. inilah teman kara gw. "namaku Aesyah, panggil aja Aes," katanya.
suara gadis ini begitu lembut. tingginya lebih tinggi ketimbang gw. sekitar 165, gw mungkin gak lebih dari 160. kulitnya bersih, rambutnya lurus sepinggang. Matanya sipit. bahkan kalau ketawa, matanya tinggal segaris.
Aes anak Palembang. Dia tinggal Plaju. gw ngak pernah ke Palembang, tapi setelah ngedengar banyak cerita tentang kotanya gw jadi tertarik pingin ke kota ini.
Aes ternyata agak pendiam, karena hingga larut malam kayaknya hanya gw yang rame. dia cukup jadi pendegnar setia. mungkin karena belum kenal atau mungkin memang karakternya pemalu, tapi nggak malu maluin kok.
cukup semalam saja gw jadi begitu akrab sama Aes. gw banyak cerita soal gw seblum masuk pondok. Dia juga cerita selama di Palembang. Sekilas gw tahu kalau Aes emang pendiam. Dia nggak pernah pergi dari kotanya sejak lahir kecuali sampai ke pesantren ini.
Ini beda dengan gw. mulai Jakarta, Batam, Jogja, surabaya sampai di kota ini, Kendiri, pernah gw rasain. jauh dari orang tua bukan hal baru.
Tapi kenapa Ees sampai ke tempat ini? adakah carita yang disimpanya, seperti gw yang belum cerita utuh tentang perjalanan hidup gw sampai di tempat ini.
"Ayo tidur1 besok sebolum subuh kita sudah harus sampai masjid lho, salat subuh barang kemudian ngaji tujuh menit,'' kata Aes memotong jalan cerita seru di malam sunyi.